Dari tiga jalan berbeda, mereka bertemu di jalan tauhid

Juli 19, 2014 | In: Catping Uda Buyung

Kenapa kita menjadi seorang muslim? Pertanyaan ringkas ini ternyata jarang kita dapati, terutama bagi kita yang terlahir dan dibesarkan di lingkungan yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tapi, coba tanyakan kepada para mualaf, bagi mereka mungkin ini pertanyaan yang tak pernah bosan mereka jawab. Inilah yang kita saksikan dari tiga orang mualaf yang datang ke acara buka puasa bersama kita pada hari Minggu, 13 Juli kemarin.

 Kiri atas: Walter (kiri) dan Nagashima (kanan), kanan atas: Jon (duduk) dan penulis (di atas podium) bawah: Suasana berbuka puasa bersama komunitas Muslim Indonesia di Osaka pada tanggal 13 Juli 2014 di Taiyo no Ie, Minoh, Osaka


Tamu pertama adalah Dr. Walter Lavina (40 tahun), peneliti di Bioteknologi, Osaka University yang berasal dari Filipina. Tamu kedua adalah Kazufuni Nagashima (36 tahun), insinyur di salah satu perusahaan energi di daerah Kansai. Dan tamu ketiga adalah Jonathan Grolms (23 tahun), seorang mahasiswa pascasarjana di bidang kimia yang berasal dari Prancis dan sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Osaka University.

Walter misalnya, menjawab dengan lugas kenapa dia menjadi seorang muslim. Dia berasal dari keluarga Katolik dan sudah mendapat pendidikan agama yang rutin semenjak kecil. Karena rutinitas pendidikan Katolik yang diterimanya itulah Walter dapat mempertanyakan sejumlah hal tentang agamanya. Beranjak dewasa, ia semakin kritis terutama perihal konsep ketuhanan dalam Katolik. Saat menjalani pelatihan bioteknologi di bawah naungan UNESCO (PBB), ia berinteraksi dan berdiskusi dengan empat muslim yang juga ikut dalam pelatihan tersebut. Salah satunya adalah seorang muslimah Indonesia yang sekarang menjadi istrinya. Dari kesempatan inilah Walter mulai belajar tentang Islam. Ia menemukan konsep ketuhanan, atau tauhid, dalam Islam jelas dan jernih. Ini membuat baik pikiran dan perasaan Walter tenang, bahwa Allah itu Esa, Dia tunggal, tidak beranak dan tidak dilahirkan, dan tidak ada yang setara dengan Dia adalah konsep ketuhanan yang sempurna. Walter kemudian memutuskan mengucapkan syahadat.

Saat membina keluarga sebagai seorang muslim, Walter menyadari bahwa Islam menempatkan keluarga sebagai sebuah pondasi utama kehidupan, sesuatu yang tidak dia sadari sebelumnya. Oleh sebab itu, Walter bertekad untuk mendidik anak-anaknya dengan panduan Islam.

Sedangkan Nagashima memiliki alasan berbeda kenapa dia memeluk Islam. Nagashima lahir dan besar dari keluarga Jepang modern di daerah Kanto. Nagashima bertutur bahwa saat kecil ia sangat jarang bertemu dengan ayahnya. Setiap hari kerja, ayahnya pergi subuh dan pulang larut malam; sedangkan di akhir pekan, ia bermain bersama teman-temannya. Fenomena ini umum ditemukan di Jepang. Satu sisi ini menunjukkan kerja keras orang Jepang untuk menghidupi keluarganya, di sisi lain waktu bersama keluarga harus dikorbankan.

Nagashima kecil kerap diajak ke kuil untuk bersembahyang, tapi praktis tidak ada pendidikan formal agama dari keluarganya. Bagi mereka, menikah di gereja, meninggal dikeramasi (mengingat tingginya harga tanah pemakaman di Jepang) dan menjalankan sejumlah ritual agama di Shinto dan Budha hanyalah sebagai suatu tradisi.

Ketika Nagashima bertemu dengan calon istrinya, seorang muslimah Indonesia, sang calon istri menyaratkan dia untuk beragama Islam jika ingin menikahinya. Dibantu calon istri, Nagashima mulai mempelajari Islam dan menyadari tidak ada hal yang sulit yang diminta oleh Islam bagi seorang muslim. Ia justru merasa ajaran Islam banyak yang sesuai dengan kode moral dan pekerti dari tradisi Jepang yang sudah biasa dia anut. Bahkan, Nagashima merasakan banyak hal positif yang ia peroleh setelah menjadi seorang muslim. Misalnya, ia merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan ketika sedang salat.

Semenjak umrah bulan Mei 2014 yang lalu, Nagashima semakin tertarik pada Islam. Ia merasakan konsep tauhid dalam Islam membuat dia tenang karena selalu dekat dengan Allah. Ia tidak lagi merasa banyak dewa untuk mengawasi gerak-geriknya sebagaimana yang ia pahami sebelumnya. Pada akhirnya, sebagaimana yang diungkapkan Walter, Nagashima merasa keuntungan sebagai seorang muslim harus dirasakan juga oleh anak-anaknya sehingga Nagashima bertekad pula mendidik anak-anaknya dengan panduan Islam.

Lain halnya dengan Jonathan, atau biasa dipanggil Jon. Pria dengan tinggi nyaris 190 cm ini berasal dari keluarga Katolik, meskipun keluarganya tidak ketat mempraktikkan ajaran Katolik. Jon remaja yang menyukai sains semenjak kecil ini berjiwa pemberontak, ia mempertanyakan banyak hal kepada orang tua dan guru sekolahnya baik tentang sains maupun agama. Jika sains dia mendapatkan jawaban yang memuaskan, tidak halnya perihal agama. Sampai pada satu titik ia mengira bahwa agama hanyalah konspirasi pemerintah untuk menipu rakyatnya sehingga mudah diatur. Ia menolak agama Katolik dan memilih ateis.

Jon menjalani masa remajanya sebagai ateis dan dengan gaya remaja Prancis umumnya yang tentu sangat jauh dari nilai-nilai Islami. Ia, yang pada dasarnya seorang yang kritis, mempertanyakan lagi gaya hidupnya. Ia merasa harus ada sebuah panduan dalam hidup ini dan sains menurutnya bukanlah panduan karena segala gaya hidup yang buruk juga berawal dari sains. 

Sampai suatu saat, sekitar satu tahun yang lalu, Jon menemukan Al-quran di perpustakaan kampusnya. Lewat Internet, ia mendapati bahwa Al-quran adalah panduan hidup muslim yang berjumlah satu koma enam milyar orang di Bumi ini. Ia heran. Pertanyaan timbul, apa yang membuat orang sebanyak itu percaya dan menjadikan Al-quran sebagai pedoman hidup. Ia mulai mencari muslim di daerah kampusnya untuk bertanya lebih jauh. 

Jon mulai mempelajari Islam sedikit demi sedikit, selama mempelajari itu dia mendapatkan tuntunan bagaimana gaya hidup yang benar dan sehat. Ia suka dengan konsep-konsep hidup dalam Islam, seperti toleransi, menghormati perempuan, dan mengkonsumsi makanan yang halal dan baik. Ini semua adalah hal-hal yang sebelum ini sudah ia pikirkan sebagai sesuatu yang harus diatur, hanya saja ia tidak tahu di mana aturan itu berada. Oleh sebab itu, ia merasa sebenarnya sudah muslim jauh sebelum ia mengenal Islam. Dan yang paling utama, menurut Jon, yang membuat dia yakin dengan Islam adalah konsep tauhid yang jelas dan jernih, persis seperti apa yang diutarakan Walter sebelumnya. Dan akhirnya Jon bersyahadat. Ramadan kali ini adalah pertama kali bagi Jon untuk berpuasa dan dia lakukan dengan semangat.

Tiga orang mualaf yang dimuliakan Allah ini datang pada Islam dari tiga jalan yang berbeda. Walter karena kekritisannya terhadap konsep ketuhanan dalam agama lamanya, Nagashima karena ingin menikahi perempuan tambatan hatinya, dan Jonathan karena kebutuhannya akan tuntutan gaya hidup, semua akhirnya memilih Islam sebagai solusi. Yang menarik, meskipun berbeda pangkal, ketiganya pada akhirnya merasakan satu ujung yang sama, yaitu bagaimana mereka merasakan ketenangan setelah menggenggam tauhid, bahwa tiada tuhan selain Allah.

Osaka, 14 Juli 2014

Terima kasih untuk Mbak Sasti dan Mbak Peggy yang telah memberikan sejumlah koreksi pada reportase ini.



1 Response to Dari tiga jalan berbeda, mereka bertemu di jalan tauhid

Avatar

Siti

Januari 27th, 2017 at 12:54 pm

Izin share ya min,, nuwun

Comment Form