Merkuri di dalam Vaksin

Juli 25, 2011 | In: Info

Masalah imunisasi dan vaksinasi tentunya menjadi perhatian banyak warga MO terutama bagi para ibu sekalian. Apakah anak sebaiknya diberi vaksin atau tidak, vaksin apakah yang aman untuk anak dan sebagainya merupakan pengetahuan yang sangat penting bagi kita semua.

Berikut ini adalah tulisan dari salah seorang warga MO yang membahas tentang merkuri yang sering dipakai sebagai bahan pengawet vaksin. Semoga berguna bagi kita semua.

-admin-

=============================================================
“Informasi mengenai Merkuri dalam Vaksin”
by Ambara Pradipta

Thiomersal (Thimerosal), adalah senyawa organomercury yang bersifat antiseptik. Perusahaan farmasi Eli Lilly & Co. memberi nama dagang “Merthiolate“, dan digunakan salah satunya sebagai preservative vaccines. Setelah melalui proses metabolisme, Merthiolate akan terdegradasi menjadi “ethyl mercury” dan “thiosalicylic acid“.

TUJUAN DIGUNAKANNYA MERTHIOLATE:
Untuk mencegah berkembangnya jumlah microorganisme / bakteri yang ada dalam formula vaksin, maka ditambahkanlah senyawa additive merthiolate yang mempunyai efek kuat untuk membunuh bakteri.
Formula vaksin (yang mengandung inactivated organism) dalam bentuk larutan yang dijual kemungkinan mengandung merthiolate.

Saat ini semakin banyak formula vaksin yang disimpan dalam bentuk setelah proses “freeze dry” atau dalam kondisi “freeze”. Dalam kasus ini, merthiolate (senyawa pembunuh bakteri) tsb pada umumnya tidak diperlukan sebagai bahan aditif.
Merthiolate digunakan sebagai bahan preservative untuk inactivated vaccine. Freeze dried vaccine (seperti vaksin measles, rubella, chicken pox) tidak mengandung Merthiolate.

Produksi dan penjualan formula vaksin di Jepang sendiri, terdapat beberapa vaksin yang mengandung merthiolate, seperti :
– Influenza.
– DPT
– DT
– Tetanus toxoid.
– Hepatitis B

Harmfulness dari senyawa Ethyl Mercury:
Kalau ingat tragedi Minamata Disease, saat itu senyawa yang terlibat adalah “Methyl Mercury” (bukan Ethyl Mercury). Banyak publikasi ilmiah yang menyatakan bahaya dari “Methyl Mercury”.

Sementara, untuk kasus Ethyl Mercury, belum ada publikasi ilmiah yang dapat di-refer utk klarifikasi bahaya senyawa tsb.

Berdasarkan data WHO dan The Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS), menyatakan perbedaan sifat pharmacokinetic dari Ethyl Mercury dan Methyl Mercury. Half-life dari Ethyl mercury adalah kurang dari satu minggu, sementara Half-life dari Methyl mercury adalah 1,5 bulan. Sehingga Ethyl mercury mudah terekskresi, dibandingkan Methyl mercury yang mudah terakumulasi dalam tubuh.

Ada beberapa publikasi yang menyatakan hubungan Ethyl Mercury dengan central nerve disorder & autism, tapi di Amerika pun pernyataan tersebut masih ambigu. Bahkan, setelah dikembangkan formula vaksin yang tidak mengandung Merthiolate pun, angka penderita autis tidak berubah (2004).

Empat independent study di UK, Irlandia Utara dan Denmark mengenai hubungan autism / neurobehavioural disorders dengan vaksinasi yang mengandung merthiolate juga menunjukkan hasil negatif. Menurut data WHO, GACVS terus mengkaji ulang hasil riset tsb.

Batasan penggunaan Merthiolate:
Batasan aman absorpsi senyawa mercury ditentukan oleh EPA (Environmental Protection Agency : USA) yang merupakan lembaga dengan aturan yang sangat strict, adalah: 0.7 mikrogram / kg per minggu.
Jadi anak dgn berat 6 kg, memiliki batasan aman 4.2 mikrogram / minggu utk absorbsi merthiolate melalui vaksin.

Dalam memberikan vaksin, pada umumnya harus diberi jeda waktu 1 minggu sebelum melaksanakan vaksin berikutnya. Di Jepang sendiri sekarang mengikuti aturan EPA tsb.

Untuk amannya silahkan diskusikan dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi mengenai jenis vaksin yang akan digunakan dan waktu pelaksanaannya.

Penyebab permasalahan yang pernah muncul di Amerika mengenai Merthiolate:

Di Amerika, vaksin / imunisasi dimulai pada usia 2 – 4 bulan setelah usia kelahiran. Pernah terjadi kasus vaksin Hepatitis B, DPT, Haemophilus influenzea B, dan Polio dilakukan pada hari yang sama.
Saat itu, berat bayi sekitar 5 – 8 kg. Sementara mercury yang diadsorbsi kedalam tubuh 2,5 mikrogram x 4 = 10 mikrogram (melebihi batas aman).

Saat ini baik di Jepang maupun di Amerika, penggunaan vaksin yang tidak mengandung mercury sudah menjadi semakin digalakkan.

Senyawa Merthiolate yang terkandung didalam vaksin berbeda-beda tergantung kepada setiap produsennya.
Kalau ada kekhawatiran, silahkan konsultasi dulu dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi.

CATATAN TAMBAHAN:
PWTI (Provisional Tolerable Weekly Intake) adalah “the acceptable level of toxic metal that can be ingested on a weekly basis, as determined by the WHO and the Food and Agriculture Organization”.

Berdasarkan hasil penelitian, dalam seafood (tertentu), terdapat konsentrasi mercury sebanyak 0.01 – 0.24 ppm.
Misalkan, dalam seminggu seseorang diasumsikan mengkonsumsi sekitar 200 g seafood, maka senyawa mercury yang masuk sebagai intake adalah sekitar 2 – 48 mikrogram.
Selama masa kehamilan 44 minggu (10 bulan), ada kemungkinan jg sekitar 200 mikrogram mercury yang terkandung didalam makanan (seafood, dsb.) yang dikonsumsi masuk kedalam tubuh.
Dalam realitas kehidupan sehari-hari pun, jumlah senyawa mercury (yang terkandung dalam bahan makanan) yang masuk kedalam tubuh jumlahnya lebih tinggi daripada mercury yang terkandung di dalam vaksin.

Hanya catatan kecil, untuk kepastian dan ketenangan masing-masing individu, silahkan konsultasi dengan dokter dan pastikan mengikuti aturan (jeda sebelum vaksin berikutnya) yang telah ditetapkan. Baca buku petunjuk imunisasinya dengan teliti. Dan tidak perlu kekhawatiran yang berlebihan. Semoga bermanfaat.

-Ambara-
dari berbagai sumber



6 Responses to Merkuri di dalam Vaksin

Avatar

tika

Juli 25th, 2011 at 5:25 pm

Vaksin dan imunisasi emang bisnis yang luar biasa. Kadang sampe ga ngerti vaksin apa aja si yang bener-bener dibutuhin secara ada vaksinasi wajib dari negara. Mungkin pengetahuan tentang vaksin ini perlu digalakkan lagi ya Mas berhubung dampaknya juga lumayan besar bagi tubuh apalagi bagi anak-anak yang notabene ketahanan tubuhnya masih belum sempurna. Btw, makasi sharenya Mas.

Avatar

rika

Juli 26th, 2011 at 2:34 pm

tik, coba jg minta dian tito nulis ttg vaksin. jd ada pandangan dokter, ahli nkimia, dsbnya. jd ibu2 lbh bs mikir tenang jg. kdg berita2 luaran terlalu seram, diterima gt aja tanpa filter or cek dan ricek sumber keilmuannya.

Avatar

tika

Juli 27th, 2011 at 1:28 pm

dah diminta ke mba dian tito mba rika…cuma katanya minggu ini sibuk banget jadi lom bisa nulis soal ini. yah didoakan semoga cepet luang waktunya jadi bisa menjawab kekhawatiran ibu-ibu semuanya.

Avatar

vini

Agustus 20th, 2011 at 2:01 pm

mas, nada chan di vaksin ga? ngikut yang ahlinya aja deh..

Avatar

Papanya Nada

Agustus 21st, 2011 at 10:22 pm

Nada ikut semua vaksin wajibnya (yang ditulis di buku panduan).

Avatar

desibundafaiz

Desember 2nd, 2011 at 11:46 am

mba rika: coba lihat di youtube, tulis vaccine danger, akan keluar video2 bahaya vaksin yg langsung dibahas bersama pakar kesehatan. dan menjad dialog di televisi. ini di negara barat lho mba…bukan di indonesia.

Comment Form