Alkohol dari Segi Keilmuan

Maret 18, 2011 | In: Info

Kita, kaum muslimin yang tinggal di Jepang, harus selalu berhati-hati dalam memilih makanan agar tidak tercampur zat-zat yang haram. Berikut adalah tulisan mas Ambara mengenai alkohol dan emulsifier yang sering kita lihat dalam kandungan produk makanan dan minuman di Jepang. Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan kita semua.


oleh : Ambara Pradipta
A) ALKOHOL

Apakah alkohol itu?
1) Definisi alkohol: Berdasarkan pengertian Kimia, alkohol adalah senyawa organik yang mengandung gugus -OH (Metanol, CH3OH; Propanol C3H7OH; etc.)

2) Alkohol pada minuman keras mengacu kepada Etanol (C2H5OH) sebagai bahan utamanya.

3) Senyawa alkohol lain seperti propilen glikol, sugar alcohols (glycol, glyserol, manitol, sorbitol, dsb) banyak kita temukan pada produk makanan sehari-hari. Tapi alkohol golongan tsb tidak termasuk kepada jenis minuman alkohol yang memabukkan.

“Toxication” Alkohol
Alkohol dapat mengalami “toxication” (proses metabolisme dimana senyawa metabolit yg dihasilkan bersifat lebih beracun dari senyawa induknya akibat proses reaksi free radikal, nucleophilicity, reaksi redox etc). Alkohol mengalami toxication dan dapat berubah menjadi golongan aldehid atau asam karboksilat-nya (contoh, metanol bisa berubah menjadi formaldehid atau asam format). Produk2 hasil toxication tsb bersifat racun dan menyebabkan naiknya kadar asam.
Pada golongan alkohol SELAIN Etanol, produk turunan aldehid / asam karboksilat tsb sifatnya sangat beracun dan sangat lethal (that’s why they only use ethanol for alcohol beverage).

Dalam kasus etanol, bahaya yang ditimbulkan muncul ketika over dosis akibat kecanduan minuman keras.

Halalkah Etanol?
Dalam hal ini perlu diluruskan mengenai halal haram yg berkaitan dgn etanol. Sebagian makanan dari alam yang kita makan ada yang mengandung etanol (walaupun hanya 0.0xxx%). Bahkan dalam tubuh (red. darah) manusia jg terdapat kandungan etanol. Etanol pada tubuh manusia mengalami metabolasi untukk memproduksi acetaldehyde, dan mengubah NAD+ menjadi NADH.

Sehingga, halal / haram pada alkohol (etanol) akan tergantung pada konteksnya karena yang diharamkan oleh Islam adalah yang memabukkan (khamar), bukan alkohol (etanol) itu sendiri.

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah arak dan setiap yang memabukkan adalah haram.” Riwayat Muslim


B) PERUBAHAN ALKOHOL (ETANOL)) MENJADI CUKA (Asam cuka / Asam asetat)

Banyak cara yang dapat dilakukan utk merubah etanol (C2H5OH) menjadi asam asetat (CH3COOH).
Contoh yang paling umum adalah pembuatan vinegar, dimana acetic acid bacteria mengubah etanol menjadi asam asetat.
Reaksi yang terjadi adalah:
C2H5OH + O2 —> CH3COOH + H2O

Produk awal (etanol) dan hasil akhir reaksi (asam cuka) memiliki sifat fisik dan sifat kimia yang berbeda.
Asam cuka memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh etanol. Dan sifat-sifat etanol pun menjadi “tidak berhubungan” dgn sifat asam cuka.

Jadi,… halal haram pada definisi khusus tentang etanol tidak berlaku lagi pada asam cuka. Yang ada sekarang adalah sifat hazardous, corrosive dsb yg dimiliki asam cuka.

C) EMULSIFIER:

Emulsifier bertugas utk memodifikasi tegangan permukaan dari komponen fase dua zat yang berbeda untuk menghasilkan suatu dispersi atau emulsi yang lebih stabil / seragam (seperti layaknya surfaktan).

Jadi pertama perlu diperjelas dulu bahwa emulsifier itu bukan nama senyawa, dan tidak terdiri hanya dari satu senyawa saja,.
Jenis2 emulsifier yang dilegalkan secara hukum sebagai bahan aditif utk makanan adalah:

– Glycerine Fatty Acid Esters (Monoglyceride, MG)
– Acetic Acid Esters of Monoglycerides (Acetylated monoglyceride, AMG)
– Lactic Acid Esters of Monoglycerides (Lactyated monoglyceride, LMG)
– Citric Acid Esters of Monoglycerides (CMG)
– Succinic Acid Esters of Monoglycerides (SMG)
– Diacetyl Tartaric Acid Esters of Monoglycerides (DATEM)
– Polyglycerol Esters of Fatty acids(PGE)
– Polyglycerol Polyricinoleate (PGPR)
– Sorbitan Esters of Fatty Acids (Sorbitan ester)
– Propylene Glycol Esters of Fatty Acids (PG ester)
– Sucrose Esters of Fatty Acids (Sucrose ester)
– Calcium Stearoyl-2-Lactate (CSL)
– Lecithin (LC)

Dari masing-masing grup tersebut terdapat lebih dari satu macam senyawa yang dapat dijadikan contoh.

Untuk sedikit contoh saja, lesitin merupakan jenis emulsifier alami yang sudah sejak lama digunakan.

Untuk menjawab bagaimana jenis struktur kimia dari lesitin ini sebenarnya agak sulit. Kenapa sulit…?
Karena yang disebut lesitin ini adalah campuran dari glikolipid, trigliseralida dan fosfolipid.
Itulah lesitin yang digunakan sebagai emulsifier / zat aditif pada makanan.

Tetapi bagaimanapun, dalam bidang biokimia, lesitin merupakan sinonim dari senyawa phosphatidylcholine.

Nah kembali lagi ke lesitin yang digunakan dalam emulsifier.
Lesitin yang merupakan campuran dari fosfolipid ini terdiri dari asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh dalam komposisi tertentu.

Baik itu Lesitin dari tanaman ataupun dari hewan, keduanya mengandung dua jenis asam lemak jenuh, yaitu asam stearat dan asam palmitat (ini persamaannya).
Hal yang berbeda adalah, proporsi asam lemak jenuh terhadap asam lemak tak jenuh dalam tumbuhan jauh lebih lebih kecil / sedikit.

Artinya secara keseluruhan dari sudut pandang kimia (molecular level), lesitin dari tumbuhan dan lesitin dari hewan yang digunakan sebagai emulsifier tsb…. “tidak 100% sama”.

D) PERUBAHAN YANG TERJADI MULAI DARI TANAMAN / HEWAN HINGGA KE LESITIN.

HEWAN / TUMBUHAN tsb memang sudah berubah total bentuk fisiknya menjadi LESITIN.
Tetapi utk mengatakan 100% berubah (secara esensi kandungan kimianya) mungkin agak sulit. Karena proses isolasi lesitin dari hewan / tumbuhan tsb hampir tidak menyertakan reaksi kimia. Adapun biosintesis yang terjadi mungkin hanya merubah sedikit komposisinya.

E) KESIMPULAN

Pada akhirnya semuanya kembali pada diri masing-masing.
Fikirkan… buktikan… dan yakini.

Kalau ragu-ragu… tanyakan pada ahlinya.

Wallahualam.

Semoga bermanfaat.



1 Response to Alkohol dari Segi Keilmuan

Avatar

vini

Maret 23rd, 2011 at 1:58 pm

Artinya secara keseluruhan dari sudut pandang kimia (molecular level), lesitin dari tumbuhan dan lesitin dari hewan yang digunakan sebagai emulsifier tsb…. “tidak 100% sama”.

wah ini info penting banget..karena sering denger beberapa pendapat yang mengatakan kalau lecitin dari hewan atau tumbuhan toh sama saja komposisinya..

makasih mas Ambara atas share ilmunya semoga berkah..

Comment Form